
Awalnya, Volendam adalah sebuah pelabuhan, dekat Edam, yang terletak di muara sungai. Pada 1357, penduduk Edam menggali kanal lebih pendek ke Zuiderzee dengan pelabuhan terpisah sendiri. Ini menghilangkan kebutuhan akan pelabuhan yang asli, yang kemudian dibendung dan digunakan untuk rekamasi. Petani dan nelayan lokal menetap di sana, membentuk komunitas baru Vollendam.
Mayoritas penduduk beragama Katolik Roma, yang sangat berhubungan dengan budaya desa. Secara historis, banyak misionaris dan uskup, yang dibesarkan di Volendam.
Volendam adalah objek wisata populer di Belanda, terkenal untuk kapal tua nelayan dan pakaian tradisional masih dipakai oleh beberapa warga. Kostum para wanita atas Volendam, dengan tinggi, topi runcing, merupakan salah satu yang paling dikenal dari kostum tradisional Belanda, dan sering ditampilkan di kartu pos wisata dan poster ( walaupun ada diyakini kurang dari beberapa perempuan saja sekarang yg memakai kostum sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, sebagian besar dari mereka lansia ).

Beberapa perempuan Belanda dengan anak2nya ( atau cucu2 ? ) di sebuah kapal nelayan. Mungkin itu kapal salah seorang kenalan atau saudaranya.
Volendam juga memiliki fitur sebuah museum kecil tentang sejarah dan gaya pakaian, dan pengunjung dapat berfoto dalam kostum tradisional Belanda.



Rumah - rumah nelayan disana sangat terawat baik & sangat bersih. Meskipun ukurannya kecil ( mungkin sekitar 6 m x 8 m, dan hampir semuanya berukuran sama / seragam ), tetapi terlihat bahwa penghuninya sangat memperhatikan detail demi kenyamanan hidup mereka. Setiap jendela rumahnya ( yang tanpa teralis dan tanpa kaca film ), selalu diberi korden dengan desain klasik, atau vertical blind yang bergaya modern. Selalu ada meja kecil untuk memajang hiasan rumah seperti pot tanaman / bunga, keramik - keramik hias bahkan tempat tidur kucing peliharaannya. Banyak kucing yang tidur di jendela itu, sehingga sangat atraktif bagi turis, terutama bagi kami.

Material rumah - rumah tradisional tersebut menggunakan kayu papan dan dicat sesuai dengan selera masing - masing penghuni. Semua rumah tanpa pagar, berdekatan satu sama lain. Halaman belakang, sebagian besar merupakan area bersama antar keluarga mereka, dipenuhi oleh barang - barang yang merupakan hobby dari masing - masing penghuni, misal tanaman, bunga, keramik , patung bahkan mainan anak - anak & sepeda.

Lihatlah. Antara rumah2 itu tidak berjarak sama sekali, tetapi masing2 menjaga privasinya. Tidak membuang sampah sembarangan dan anak2pun tidak saling mengganggu.
Pada umumnya mereka tidak menggunakan / tidak mempunyai mobil. Bagi yang mempunyai mobil, disediakan lapangan parkir khusus agak jauh dari rumah mereka. Pedestrian & jalan mobil tidak dibedakan, hanyak ada perbedaan ketinggian sekitar 5 cm. Menggunakan batu dengan desain seperti paving block. Lebar jalan antar rumah hanya sekitar 10 m.

Bila terdapat sungai, mereka membangun jembatan khas Belanda, yaitu seperti di depan hotel Omni Batavia Jakarta. Jembatan terbuat dari kayu papan tua. Sungai sangat terpelihara rapi dengan banyak bebek liar berenang & mencari makan.

Jembatan kuno, tetapi cantik sekali …..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar